Rabu, 14 Oktober 2020

MENDONGENG YUK

KISAH RABU SERU

Oleh: Nurhalita Diny



 "Ya Allah,,,!, kok ngompol lagi de....iiihhh banyak banget lagi... berantakan kemana-mana pipisnya, jorok tahu de, kan bau tuh, emang gak malu de udah besar masih ngompol?" Teriak Umi Hasna sambil mencoba menahan nada bicaranya agar tidak tinggi atau marah.

"Loh, kok ada mainan Depi di sini, ini Aji bawa dari rumah Depi mainannya? Aji sudah izin Depi ya kalau mainan mobilannya dibawa ke rumah? Tanya Ibu Aji kepada anaknya. Sambil berharap semoga Aji anaknya itu sudah meminta izin kepada Depi temannya untuk membawa mainannya.

"Ma, aku kepanasan!" Ujar Boni kepada mamanya, setiba di rumah setelah pulang sekolah. Bibinya datang menghampiri Boni, kemudian membukakan baju seragam SD nya untuk diganti dengan baju rumah, dan melepas kaos kaki, membawa tas sekolahnya Boni ke dalam kamarnya.


Bagaimana reaksi ayahbunda membaca kejadian diatas? Apa pernah juga terjadi pada ananda kita dirumah? Heheh,..kejadian yang pertama itu adalah pengalaman saya loh ayahbunda, saya kebingungan sendiri waktu itu bagaimana caranya untuk toilet training anak saya yang paling kecil ini. Untuk ketiga kakak-kakaknya alhamdulillah tidak menjadi masalah karena mereka adalah bayi lahir normal sehingga untuk perkembangan dan pertumbuhannya pun normal sesuai dengan usianya. Malah untuk kedua kakaknya saya paksa untuk toilet training sebelum usia dua tahun. Karena keadaan yang membuat saya harus melakukannya, mereka berdua menjalani masa balita nya di LN, diapers disana mahal, maka saya harus berhemat diapers waktu itu, salah satu caranya adalah fokus dengan toilet training anak-anak. Kok saya jadi terlintas membuat qoute....."Ketika hidup tidak ada pilihan maka kita menjadi lebih kuat memperjuangkan hidup"...Quote berdasarkan pengalaman saya ya...hehhehe

Balik lagi cerita toilet training anak saya yang paling kecil ini, mengapa Zaid ini spesial, saya tidak memakai pola yang sama dengan kakak-kakaknya? karena dia lahir prematur dan setiap perkembangannya berbeda jauh dengan usianya waktu itu. Untuk bayi lahir dengan berat normal itu usia 1 tahun anak sudah bisa berjalan, untuk Zaid ini usia dua tahun dia baru bisa berjalan. usia setahun itu dia baru bisa berdiri. Makanya ini benar-benar membutuhkan kesabaran dan ilmu bagi saya untuk bisa membersamai dan memperjuangkannya untuk bisa menyusul anak-anak berat lahir normal untuk seusianya. Dan begitupun untuk toilet training Zaid ini saya mencobanya sejak usia tiga tahun dan seterusnya,,,, meskipun tidak konsisten karena harus tarik ulur dengan kondisi Zaid yang kadang sakit dll, juga kondisi emosional saya dong sebagai ibu dengan empat anak.,,.. berikut usia yang sudah menjelang kepala empat tentunya beda dengan mahmud (Mamamuda) yang energinya masih menjulang...hehhhe...

Dan sampailah puncaknya waktu itu usia Zaid sudah empat tahun berjalan, namun Zaid tetap masih pakai diapers. Saya mulai warning diri sendiri, bahwa saya harus sudah mulai fokus dengan toilet training Zaid. Meskipun selama itupun saya sudah mulai toilet training Zaid, namun belum menemukan satu metode yang untuk Zaid bagaimana caranya agar Zaid ini klik dan paham bahwa sudah waktunya dia pipis di kamar mandi dan tidak memakai diapers lagi. 

Alhamdulillah saya mengikuti kelas parenting di komunitas dan saya pun terus pelajari pola nya Zaid bagaimana dan waktunya pipis Zaid ini. Dan waktu itu saya mendapatkan materi tentang dongeng. Yap...dongeng, waktu itu terlintas dong cerita fiksi gitu, khayalan semata. Tapi gak pernah kepikiran serius tuh, kalau dongeng benar-benar bisa menumbuhkan karakter anak. Di kelas ini saya dan teman-teman semua belajar membersamai anak dengan melakukan prakteknya, kami harus menuliskan pengalaman-pengalaman praktek yang kita lakukan dalam membersamai anak tersebut sesuai materi yang kita dapatkan. Dan pas benar saya kok kepikiran ya dengan toilet training Zaid ini. Pastinya bisa dong menumbuhkan karakter kemandirian pada Zaid, fokus melatih toilet training nya dengan metode dongeng. Waaah bakalan kereen banget kan,,,, tantangan baru, "mendongeng untuk anak dalam rangka toilet training".....Hehehhe...(asyiknya di kelas ini, semua masalah yang kita hadapi itu kita buat menjadi tantangan loh, jadi gak stress yang ada malah seru).

Mulailah saya melakukan praktek mendongeng dengan Zaid. Awalnya aneh...hehehe.. diliatin Zaid segala rupa..wkwkkwkw saya kebayang nih, dikiranya Zaid, emaknya ngapain ya? rempong amat, cerita pakai boneka-boneka mainannya dirumah dengan mimik yang lucu dan (menggemaskan)...hehhehe. Biarlah hari pertama seru dulu, buat dia tertarik dulu dong dengan kita dan membayangkan boneka-boneka lucunya bisa diajak bicara. Saya sendiri pun sebenarnya ingin ketawa mempraktekan dongeng ini dihadapannya. Dan lucunya kadang-kadang kesalahan juga itu aksen dan logat bicara bonekannya ,,, kan bonekanya banyak tuh, dua boneka saja kan mesti beda-beda aksen dan logatnya supaya kentara bahwa boneka-boneka itu beda satu sama lainnya. Kalo aksennya sama kan pastinya kurang menarik lah ya. Kalau salah ya udah ketawa aja, bilang salah dan ulangi aja....hehehhe kayak kita juga sedang berlatih menjadi pendongeng. Satu lagi kita juga belajar membuat cerita dadakan loh, meskipun kalau yang bagusnya kita sudah siapkan ceritanya dulu. Tapi kalau gak siap kan mau gak mau kita buat cerita dadakan saat itu juga. Wah kebayang yah tuh ayahbunda, udah jadi berapa buku cerita seri anak ya, kalau kita seriusin nih mendongeng pada anak kita. 

Dan ajaib loh, Zaid nagih minta didongengin lagi. Padahal saya itu setiap dongeng beberapa kali mengulang-ngulang ide cerita yang sama. Yaitu tutorial pipis di kamar mandi sendiri hehhehe. Itu saya menceritakan dua boneka, satunya menjadi guru yang mengajarkan cara pipis di kamar mandi. Saya pakaikan bonekanya baju dan celana Zaid yang sudah kecil, kemudian nanti si boneka satunya memberitahukan kepada temannya kalau ada tanda-tanda kebelet pengen pipis itu seperti apa, kemudian bagaimana caranya kalau pengen pipis ke kamar mandi dengan tutorialnya yaitu membuka celananya dulu dan ke kamar mandi, bagaimana sebaiknya posisi ketika pipis nya dan cebok setelah selesai pipisnya dengan tertib. Bisa juga kita tambahkan doa-doa ke kamar mandi saat itu. Kala waktu juga saya menekankan rasa malu kepadanya kalau pipis nya sembarangan. Bagaimana nanti dia dikucilkan teman atau orang lain karena sudah besar masih pakai diapers atau pipis sembarangan. Saya membacakan buku cerita juga yang berkaitan dengan toilet training ini. 

Kadang kala ketika saya tidak ada ide yang bisa diceritakan pada Zaid, saya hanya mengambil boneka nya dan saya pakai suara khas boneka tersebut seperti biasa saya memakainya untuk berdongeng. Hal ini saya lakukan ketika misalnya Zaid ngompol, maka langsung saya datang dengan bonekanya, menegur Zaid melalui bonekanya, "Ih kok kamu pipis di celana si, jijik deh jadinya, kan kotor tuh celananya jadi basah" kata boneka beruangnya dengan aksen dan logat khasnya yang saya berat-beratkan suara saya. Dan seketika itu juga Zaid merasa malu dan terkesima sesaat, cepet-cepet deh dia membersihkan diri dan meminta maaf. Besok-besok tentunya juga saya berusaha menanyakan sesering mungkin maksimal dua jam sekali, apakah Zaid mau pipis, sesekali juga menanyakan melalui boneka nya, seakan bonekanya yang bertanya. Ini membuat Zaid malu sendiri merasa ditegur tapi tidak menggurui. Begitupun untuk hal-hal lain ketika saya ingin mengingatkan Zaid karena melakukan kesalahan, saya mulai sering menggunakan boneka-boneka nya. Bila Ia bersuara keras, mengotori lantai, tidak membereskan mainannya dll. Metode mendongeng ini cukup efektif untuk menegur anak-anak usia dini kita ketika mereka melakukan hal-hal yang kita kurang senangi, entah kesalahan atau apapun yang sebaiknya tidak dilakukannya. Seni menegur dengan dongeng, menegur tanpa merasa ditegur namun membuat malu sendiri sehingga secara tidak sadar dia melakukan hal yang sebaiknya dilakukan. 

Tugas akhir skripsi saya di Universitas Terbuka, Pendidikan anak usia dini program linear kesetaraan adalah juga tentang mendongeng yaitu " Upaya Membangun Karakter kemandirian Anak Usia Dini Melalui Dongeng" Alhamdulillah setelah saya cobakan pada anak-anak di sekolah Mentari, metode dongeng ini sangat memberikan dampak yang baik untuk menumbuhkan karakter baik kepada anak-anak. Karena dunia anak-anak adalah dunia imajinasi, dunia penuh khayalan yang indah menyenangkan dan membahagiakan mereka. Anak-anak kita berikan saja mereka sebuah gambar atau benda pasti mereka dapat berimajinasi dengan keren terhadap gambar atau benda tersebut. Kita beri ruang imajinasi mereka dengan sering membacakan buku kepada anak-anak kita atau mendongeng tanpa buku sekalipun kepada mereka. Hal ini akan sangat memberikan banyak manfaat kepada anak-anak. 

Manfaat dongeng buat anak-anak adalah:

1. Memperkaya imajinasi mereka, sehingga membuat mereka semakin kreatif dalam berkarya, karena semua yang ada dalam dongeng bisa terjadi meskipun di dunia nyata belum tentu bisa terjadi. Ups... bila kita kulik lagi batasan tidak bisa dan bisa hanyalah ada pada orang dewasa saja ya, karena bagi Allah semua bisa terjadi kecuali jika Allah tidak berkehendak. 

2. Dengan dongeng akan lebih mudah untuk memperkenalkan berbagai macam karakter-karakter baik kepada anak-anak. Seperti karakter semangat, berjuang, berani, jujur, pantang menyerah, santun, bijak, toleransi dll, karena di kemas melalui cerita dan anak bisa kita tanyakan kembali dari cerita yang kita ceritakan pada anak.

3. Anak yang sering mendengarkan dongeng tentunya akan lebih kaya literasi dan memiliki banyak kosakata yang akan menambah cerdas anak dalam berkomunikasi dengan orang lain. Dan kelak kita anak-anak tumbuh besar, mereka akan mencintai buku dan cerdas literasi. 

Demikian ayahbunda ternyata mendongeng kepada anak-anak kita di usia dini sangat besar manfaatnya. Semoga ini akan membuat ayahbunda konsisten mendongeng untuk anandanya dirumah ya. Lakukan itu terus menerus dan ayahbunda akan merasakan hasilnya yang menakjubkan. Tidak percaya? Ayo kita coba....Siapa Takut Menerima Tantangan ini?^*^

Make ones to do and continues to do it. 


Sumber: 

Materi Bunda Sayang Ibu Profesional

Upaya Membangun Karakter kemandirian Anak Usia Dini Melalui Dongeng Pada Anak KB Mentari Kota Tangerang: Nurhalita Diny 

Pengalaman pribadi 

https://ummimentari.blogspot.com/2017/02/meskipun-sakit-zaid-berusaha-pipis.html


Tidak ada komentar:

Posting Komentar