Rabu, 28 Oktober 2020

BERDAMAI DENGAN LUKA INNER CHILD KITA SEBELUM MENDIDIK MEREKA

Kisah Rabu Seru

Oleh: Nurhalita Diny





"Ibu....Ade mau itu...., gak mau yang ini, bukan ini" Seru Ade kepada ibunya. "Ibu pusing......dengernya Adeeee!...nih anak gak bisa diam amat ya, emang dasar si rewel...Celetuk Ibu kepada anaknya dengan sedikit teriak dan menampilkan wajah yang sebal kepada anaknya.

"Ihhhhhh Roni bisa diam gak si.... ngeselin amat ya, nih rasain ya kalo gak mau diam mama cubit nih" Kata Mama Roni kepada anaknya sambil mencubitnya beberapa kali ketika Roni menangis tantrum di Mall. 

"Begini amat si punya saudara, numpang dititipin anak aja sebentar susah amat, kita lihat besok-besok kalau dia ada keperluan sama saya, gak mau peduliin" Bathin Bunda Lofa
 

Kenyataan seperti ini kadang kita dapati, sifat manusia yang banyak mengeluh. Dan memang tabiatnya manusia seperti ini, sering mengeluh, tidak sabar, pelupa, khilaf dll. Namun manusia diberikan akal dan hati nurani tidak seperti hewan. Maka manusia dengan akal dan hati nuraninya diberikan kebebasan memilih jalan hidupnya, mau baik atau buruk, mau dunia atau akhirat, mau surga atau neraka. Beginilah diri kita saat ini dengan semua pribadi karakter yang melekat pada diri kita adalah karena orang tua dan lingkungan di sekitar kita serta takdir Allah yang berkerja setelahnya. 

Karena kita diberikan kebebasan memilih, maka sesungguhnya kita mampu menghadirkan kebaikan itu untuk diri kita sendiri minimal. Kecuali ada yang memang tidak menginginkan kebaikan itu hadir, ada yang mendapatkan input-input yang salah selama perjalanan hidupnya dan membentuknya menjadi orang tua yang berkarakter buruk, dia memiliki luka inner child yang sulit dilupakan, dimaafkan dan disembukan hingga dia dewasa dan  menjadi orang tua yang kemudian memiliki anak. Secara tidak langsung luka Inner child orang tua ini menularkan karakter buruk itu kepada anaknya.

Apa itu Inner Child? Mengapa Inner Child bisa terluka dan terus membekas pada diri kita hingga akhir hayat hidup kita bila kita tidak berdamai dengannya. 

Menurut para ahli Inner Child adalah segala pengalaman yang kita dapatkan diwaktu kita kecil hingga setelahnya, baik itu pengalaman bahagia ataupun sedih dan pengalaman ini akan membekas hingga kita dewasa dan mempengaruhi diri kita dalam mengekspresikan diri ketika dewasa. Dan bahkan dapat membuatnya menjadi salah pengasuhan kepada anak-anak, karena menganggap sesuatu kesalahan itu normal adanya. Misalnya ketika dulu kita masih anak-anak, mungkin ada orang tua yang memberi label kepada anaknya, "Si cengeng", "Si rewel", "Si hitam", "Si gendut" dll, Kita menyadari betul pelabelan ini membuat kita tidak nyaman kan? Atau adakalahnya membuat kita tidak percaya diri dan merasa tidak yakin dengan pencapaian yang kita lakukan ketika kita misalnya dulu waktu kecil dipanggil si gendut terus ketika dewasa sudah tidak gendut lagi, tetap saja kita merasa tidak yakin bahwa kita tidak gendut lagi. Maka karena ketidaktahuannya inilah ketika menjadi orang tua kita melabeli anak kita juga dengan hal-hal yang membuat mereka juga sesungguhnya tidak nyaman. Siklusnya terus berlangsung. Menjadikan karakter buruk turun temurun.  

Atau ada juga cerita Inner Child anak yang di bully ketika ia kecil akhirnya hingga ia dewasa hidupnya selalu penuh dengan pikiran negatif, berkata negatif seakan hidupnya tidak pernah merasa bahagia. Yang dia katakan selalu saja tidak menyenangkan karena dia memandangnya dari sisi yang negatif. Dan begitupula dia mendidik anaknya selalu melihat keberhasilan anaknya dari sisi yang negatif, dia membanding-bandingkan anaknya dengan orang lain, menganggap keberhasilan anaknya adalah wajar saja dan tidak perlu diapresiasi, namun ketika anaknya salah dia akan marah besar karena menurutnya kesalahan itu kebodohan. Siklus ini jika berlangsung terus bisa kita bayangkan bagaimana buruknya kelak karakter satu keluarga, satu generasi dan bisa jadi satu bangsa.

Ada juga luka Inner Child dulu dimasa kanak-kanaknya dia dipermalukan di muka umum, di cubitin di depan orang banyak, dimarahin di jelek-jelekin didepan saudara-saudaranya. Akhirnya luka itu membekas terus hingga ia dewasa dan dibawanya ketika menjadi orang tua, siklus keburukan itu terjadi lagi dia melakukannya kepada anaknya, karena menurutnya hal itu adalah wajar dan akan membuat anaknya kuat atau dia menumpahkan kekesalannya itu kepada anaknya. Sehingga anaknya pun mendapatkan perlakuan yang sama seperti yang di alami orang tuanya ketika ia kecil. 

Kadang luka Inner Child ini membuat diri menjadi seorang yang pesimis, benci, sombong dll karakter itupun muncul kepada dirinya. Menjadikan orang tersebut ber hati keras karena luka yang didapatkannya di waktu kecil. 

Memurut Dr Nicole LePera, Psikolog holistik dari Philadelphia, AS, bahwa dari seorang itu lahir kedunia sampai usia 6 tahun itu adalah masa yang paling berdampak dalam kehidupan kita.“Gelombang otak kita berada dalam keadaan theta, mirip dengan hipnosis. Kita menyerap semua yang ada, yaitu bahasa, cara hidup di dunia, cara menjalin ikatan dengan figur orang tua kita,” jelasnya. Menurutnya juga di usia inilah anak-anak menginternalisasi segala sesuatu yang di alami dan diketahuinya begitu saja tanpa mempertanyakan ulang. Berpikir kritis belum terbangun pada usia tersebut, Sehingga anak akan mempercayai dengan apa-apa yang dilakukan orang dewasa disekitarnya.

Anak-anak di usia dini masih sangat bergantung kepada pengasuh utamanya yaitu orang tuanya. Mereka takut berpisah dengan orang tuanya sehingga mereka menuruti saja apa yang dikatakan orangtuanya itu. Baik buruknya pengasuhan yang anak usia dini ini dapatkan mereka mengamininya saja tanpa mampu memberikan penyangkalan karena anak-anak usia ini belum mampu dan tidak mengetahui kebenaran atau kesalahan yang dia dapatkan.   

Maka marilah kita sebagai orang tua menginstropeksi diri kita terutama perihal Inner Child yang kita dapatkan waktu kecil. Kita coba renungi kembali inner child yang pernah kita dapatkan ketika kita kecil, apakah itu membahagiakan atau kah luka yang dalam. Karena luka itu kadangkala lebih dalam melekat daripada kebahagiaan. Melupakan saja tidak cukup, menyembuhkan luka itu tentunya tidak mudah dan perlu kesadaran diri sungguh-sungguh untuk itu. Dibawah ini adalah hal-hal yang bisa kita lakukan agar kita bisa berdamai dengan luka Inner Child kita:

1. Mengungkapkan pengalaman buruk tersebut yang utama tentunya pada Allah SWT, utarakan semua rasa itu. Waktu yang paling nyaman adalah di seperdua, sepertiga malam terakhir, waktu kita sholat lail dikala tidak ada orang yang mendengar kan keluh kesah kita, hanya Allah sang Maha Pendengar dan Maha mengabulkan doa-doa kita. Buat diri kita sangat rendah dan penuh permohonan kepada Zat yang menciptakan kita. Menangislah kepadaNya. Mintalah hati kita untuk diberi kelapangan dan kedamaian dengan luka Inner Child ini, dan yakinlah. Begitu mudah bagi Allah membalikan sesuatu, sangatlah mudah. 

2. Bisa juga kita ungkapkan pengalaman buruk ini kepada psikolog/pasangan hidup/teman dekat atau kita dapat menuliskannya, tentu kita akan membuka luka itu kembali, lepaskan semua rasa itu, bisa jadi kita akan teriak atau menangis, lepaskan saja jangan ditahan. namun setelahnya kita akan merasa lega

3. Lakukan tahapan Ho’oponopono

Apa itu Ho’oponopono? Ini adalah proses memaafkan yang berasal dari Hawai, membantu kita untuk membangun kembali hubungan dengan orang lain—bahkan inner child kita. Kita dapat mengambil waktu untuk menyendiri dan mengatakan hal-hal ini:

I am sorry”, katakan itu kepada dirimu bukan karena kamu telah berbuat salah, melainkan karena kamu telah menyimpan emosi negatif untuk waktu yang lama dan tidak berusaha menyembuhkannya. Luka dan kenangan buruk itu kamu simpan dan tidak kamu ungkapkan sehingga memuncak dalam dirimu.

Please forgive me, ungkapkanlah rasa maaf yang lebih mendalam kepada inner child-mu. Ungkapkanlah maaf karena kamu tidak banyak mempedulikan cara pandangnya atau bahkan mencoba melupakannya. Permintaan maaf ini akan membawamu dapat mencintai dirimu dengan lebih baik, termasuk inner child-mu.

I love you, katakana bahwa apapun yang telah terjadi kepadamu, kamu mencintai dirimu sendiri tanpa syarat. Tunjukkanlah rasa cinta kepada dirimu yang terus bertahan hingga saat ini. Cintailah dirimu, tubuhmu, udara yang kamu hirup, dan perjalanan hidupmu.

Thank you, tunjukanlah rasa syukur atas kehidupan, cinta, dunia, dan pengalaman yang telah membentukmu menjadi sosokmu yang sekarang. Tunjukkanlah rasa syukur atas inner child yang telah bertahan meskipun memiliki perihnya luka yang dirasakan. Rasa syukur ini bisa membantumu lepas dari emosi negatif yang kamu rasakan. 

Ketika melakukan ini jadilah pribadi yang jujur dengan apa yang ada pada diri kita sendiri. Sehingga kita merasa lega. 

4. Membuka Diri dan Berdamai pada diri sendiri

Proses penyembuhan Inner Child ini butuh proses, kuncinya kita harus sadar bahwa tubuh kita butuh proses itu nikmati prosesnya dan terus berusaha membuka diri dengan lingkungan, belajar melihat dunia dari sisi positifnya sehingga dengan sendirinya kita berdamai dengan Inner Child kita. 

Mendidik karakter baik itu berat dan tidak sebentar, membutuhkan waktu sepanjang masa. Namun yang terutama adalah kala masa anak-anak. Karena di masa anak-anak ini fitrahnya adalah meniru semua orang dilingkungan sekitarnya, anak-anak mengamati dan mencontoh kita terutama orang tuanya. Bagaimana kita bisa menjadikan anak berkarakter baik, bila kita sendiri orang tuanya masih memiliki karakter yang buruk. Untuk itu ayo kita berusaha mewujudkannya dengan memahami dulu diri kita sendiri dengan mengenali Inner Child kita dan berusaha untuk mengatasinya, sehingga kita bisa mewujudkan pengasuhan yang sehat dan membangun karakter yang baik untuk anak-anak kita. 

Kenali, Pahami, Atasi dan berdamailah dengan Inner Child kita 

Sumber

Al-Quran dan Hadist

https://pijarpsikologi.org/memahami-inner-child-dalam-diri/

https://www.parenting.co.id/balita/apa-itu-inner-child-

https://satupersen.net/blog/inner-child-mengenal-bagian-diri-lebih-dalam

Pengalaman pribadi dan teman-teman



Tidak ada komentar:

Posting Komentar