"Alikaaa...Alikaa..." Kutelusuri seluruh sudut rumah dan tak melihat sosoknya dimanapun. _Kemana anak itu?_ satu jam lalu ia minta izin main ke rumah Adit. Tapi tak lama kulihat mereka sama-sama main di halaman kami sampai akhirnya chat dari pelanggan mengalihkan perhatianku.
Kupakai hijabku dan melangkah ke rumah sebelah.
"Assalamualaikum...bibi, lihat Alika nggak ya? Tadi main sama Adit..."
"Ini saya jg lagi nyari bu...dicari mamanya mau ngobrol di telpon ktnya" wajah itu tampak sedikit gusar.
Berdua kami mencari keliling komplek. Menyisir setiap blok, melongok setiap sudut tak terlihat. Hampir satu jam pencarian, peluh mulai membanjiri tubuhku, dan rasa cemas menguasai perlahan seiring kenyataan yang kami hadapi: mereka tidak terlihat dimanapun!
_Bagaimana kalau mereka diculik?_
_Bagaimana kalau mereka jadi korban perdagangan anak, atau perdagangan organ tubuh?_
Naudzubillahumindzalik...kuenyahkan bayangan itu dari kepala dan memutuskan untuk pulang. Kurasa aku butuh segelas air untuk menjernihkan pikiran.
Baru saja kututup pintu pagar, mataku terpaku pada dua pasang sandal dalam radius 20 meter dari pandangan. Itu sandal mereka! _Kenapa mereka main di gudang?_
Bergegas kulangkahkan kaki kesana. _Kreeeeeek_ keriut suara pintu gudang merayap di pendengaran seiring pemandangan yang membuat jantung seakan dicabut paksa dari tempatnya.
_Ya Rabb sedang apa mereka?_
Dua anak TK itu sedang berbaring. Tanpa busana! Pakaian mereka bertumpuk dekat kaki. Mendapatiku datang, mereka bangkit dan memamerkan gigi.
Jantungku berdentam hebat.
"Nak, lagi main apa? Kok bajunya dibuka?" Kuharap mereka tidak bisa mendeteksi suaraku yg gemetar.
"Nggak tahu, Adit yang nyuruh" Alika berkata polos.
Perlahan kupasang pakaian mereka dan kutanya Adit dengan suara setenang mungkin.
"Adit, main apa ini? Kok pake dibuka bajunya?"
"Main kaya Mama dan Papa..."
_Ya Rabb!!_
Hatiku ngilu.
(By Esme *inspired by true story)
Check out my story on Steller: https://steller.co/s/7nMYUtarn4y
Tidak ada komentar:
Posting Komentar