Rabu, 16 Desember 2020

Seekor Serigala Akan Memiliki Anak Serigala

 Kisah Rabu Seru

Oleh: Nurhalita Diny

https://www.kiblat.net

Saya menemukan judul diatas dari ucapan seorang pahlawan Islam Turki pada film serial kebangkitan Islam berjudul "Dirilis Ertugrul". Film serial ini masih saya tonton sampai saat ini karena serialnya yang sangat panjang. Meskipun serialnya hingga 150 episod namun sangat menginspirasi. Alasannya bagi saya salah satunya adalah karena film ini bukan film fiksi semata tapi diangkat dari kisah nyata kebangkitan Islam di Turki pendiri kesultanan Ustmaniyah, Ertugrul. Merupakan leluhur Muhammad Al Fatih penakluk Konstantinopel (sekarang, Istanbul;Turki). Muhammad Al Fatih (Sultan Mehmed) adalah dari garis keturuan Osman anaknya Ertugrul. Film ini sangat rekomended buat kita para orang tua yang merindukan hadirnya kebangkitan Islam, semangat peran kita sebagai orang tua dalam menciptakan generasi-generasi Robbani yang bisa membawa kita ke surgaNya. Tontonan yang bagus untuk anak laki-laki karena disana ada kisah heroik ksatria-ksatria Ertugrul dalam menegakan kebenaran keadilan dan menumpas pengkhianatan. Kisah nyata yang bisa ditiru anak-anak kita kelak. Bukan kisah fiksi superhero seperti batman, superman dll yang merupakan khayalan semata pada anak-anak kita. Dan bagaimana peran seorang perempuan yang bangga ketika hamil karena berharap dapat melahirkan keturunan-keturuan terbaik seorang kesatria penegak kebenaran dan keadilan. Bukan seorang perempuan yang galau ketika hamil karena ketakutan akan ketidakmampuannya mendidik anak-anak mereka. (Allah, sekarang saya jadi terbayang bagaimana kondisi Ibu-ibu Palestina yang saat ini kondisi mereka sama dengan di film ini, begitu pentingnya kehamilan, kelahiran dan kehadiran seorang pejuang Palestina yang dapat membebaskan Al Aqso dari Kaum Yahudi)

Didalam satu serialnya saat itu Ertugrul berkata kepada ibunya "seekor serigala akan memiliki anak serigala". Hingga saat ini ucapan itu terus mengiang ditelinga dan menohok dalam hati, terbayang akan peran saya dan kita semua sebagai orang tua bagi anak-anak kita. Bahwa anak-anak kita adalah seperti pepatah orang bijak, "Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya", mereka adalah hasil cetakan diri kita sendiri sebagai orang tua, maka ketika kita marah dengan tingkah laku mereka ternyata bisa jadi adalah perilaku kita sendiri di masanya atau mungkin masa kita saat ini yang masih saja sangat jauh dari akhlak Rasulullah SAW. Dan kita menuntut kebaikan akhlak dan kecemerlangan pikiran itu hadir dari anak-anak kita sedangkan kita sendiri tidak merubah diri kita menjadi lebih baik dengan istiqomah. Meskipun hanya sedikitpun kita menjadi lebih baik hanya dikala ada maunya saja, kita menjadi lebih baik ketika kita teringat kepada Allah. Bukan kebaikan sedikitpun namun istiqomah melakukannya kapanpun, bagaimanapun kondisi kita, dan dimanapun kita berada. Masih sangat jauh kita dari keistiqomahan kebaikan tersebut.

Sayapun teringat kisah seorang Khalifah Umar Bin Abdul Aziz, seorang khalifah yang paling adil dizamannya. Hingga beliau dijuluki khalifah yang ke enam karena keadilan dan kesejahteraan yang terwujud dari kepemimpinan beliau. Leluhur dari Khalifah Umar Bin Abdul Aziz adalah seorang ibu penjual susu yang jujur, tidak mau susunya dicampur dengan air. Al kisah ketika suatu malam Khalifah Umar Bin Khatab berkeliling ke rumah-rumah guna menyelidiki keadaan rakyatnya tanpa sepengetahuan mereka. Beliau menemukan disalah satu rumah suara seorang gadis sedang menolak perintah ibunya yang ingin mencampurkan susu yang dijualnya dengan air. Gadis tersebut mengingatkan ibunya dengan pesan Khalifah Umar Bin Khatab agar selalu jujur dalam segala hal meskipun kondisi mereka sangat miskin. Mendengar hal itu Umar sangat bersedih dan memerintahkan pegawainya memanggil Ibu dan gadis tersebut esok harinya untuk menghadap beliau. Dan Umar meminta salah satu anaknya untuk menikahi gadis jujur tersebut. Salah satu anaknya yang bernama Ashim menikah dengan gadis penjual susu ini yang bernama Fatimah. Khalifah sangat menyayangi mereka berdua dan dari keturunan mereka berdualah hadir seorang bayi perempuan cantik bernama Laila. Ketika dewasa, Laila menikah dengan Abdul Aziz. Dari keturunan Laila dan Abdul Aziz inilah lahir Khalifah Umar bin Abdul Aziz.

MasyaAllah dari semua kisah ini ternyata untuk menghadirkan satu orang anak pemimpin peradaban begitu panjang rantainya. Tidak semata hadir begitu saja. Sebagaimana kita ketahui bahwa Muhammad Al Fatih adalah bukan keturunan langsung Ertugrul, dan dari sebelumnnya pun leluhur mereka adalah orang-orang yang ingin mewujudkan hadist Rosulullah yaitu "Dalam sabdanya, Nabi sallallahu ‘alaihi wasallam menyampaikan kabar gembira kepada  para sahabatnya, “Kota Konstantinopel akan jatuh ke tangan Islam. Pemimpin yang menaklukkannya adalah sebaik-baik pemimpin dan pasukan yang berada di bawah komandonya adalah sebaik-baik pasukan.” (HR. Ahmad)

Dalam riwayat lain, salah seorang sahabat Nabi, Abu Qubail bercerita, “Ketika kita sedang bersama Abdullah bin Amr bin al-Ash, dia ditanya, ‘Kota manakah yang akan dibuka terlebih dahulu; Konstantinopel atau Roma?’ Abdullah meminta kotak dengan lingkaran-lingkaran miliknya. Kemudian dia mengeluarkan kitab. Lalu ia berkata, ‘Ketika kita sedang menulis di sekitar Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, beliau ditanya:

 أي المدينتين تفتح أولا : أقسطنطينية أو رومية ؟ فقال رسول الله صلى الله عليه و سلم : مدينة هرقل تفتح أولا . يعني : قسطنطينية

Dua kota ini manakah yang dibuka lebih dulu: Konstantinopel atau Roma?’ Rasul menjawab, ‘Kota Heraklius dibuka lebih dahulu.’ Yaitu: Konstantinopel’.” (HR. Ahmad, ad-Darimi dan al-Hakim)

Dan peran kita sebagai orang tua adalah sangat penting untuk dapat mencetak mereka anak-anak yang akan menjadi pemeran peradaban kelak setelah kita tiada. Apakah mereka akan jadi penerus perjuangan Rosulullah SAW atau kah sebagai pecundang... (Naudzubillah). jangan sampai karena kesalahan kita sebagai orang tua mencontohkan perangai yang buruk menjadi andil kita membentuk keburukan akhlak mereka sehingga mereka menjadi perusak di muka bumi ini. Karena kehidupan kita sebagai orang tua bukanlah hanya saat kita hidup namun dengan menjadi suri teladan akhlak yang baik kepada anak-anak kita akan menjadi investasi akhirat kelak orang tuanya yang tidak akan putus selamanya meski kita sudah tiada. Menjadi amal soleh yang akan terus mengalir menerangi cahaya kubur dan peringan langkah kita melangkah di jembatan siratal mustaqim. 

Wallahu alam bishawab

Semoga Allah senantiasa menolong kita. 


Sumber

Al Quran

Al Hadist

https://www.turkishserialislam.id/category/dirilis-ertugrul/dirilis-ertugrul-season-5/

Sirah Khalifah Umar Bin Abdul Aziz

Sirah Muhammad Al Fatih

Novel Ghazi; Felix siaw 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar