Oleh: Nurhalita Diny
"Mi, ini buat Zaid ya, aku mau bongkar?, Mau buat bikin-bikin" Tanya Zaid kepada Umi, meminta CPU bekas yang rusak untuk dibongkarnya.
Lain waktu dia melihat ada kardus bekas meja lipat besar, "Ini udah gak dipake kan Mi? Buat Zaid ya" Pintanya sama Umi.
"Mi, Zaid mau buat mobil besar bisa dinaikin, Zaid bisa" Ucapnya pada Umi yang sedang antusias mendengarkan Zaid
"Terus nanti gimana jalaninnya, emang Zaid bisa jalaninnya, pakai energi apa? rodanya bagaimana? Tanya Umi pada Zaid
"Pake aki, nanti badannya pakai gerobak kayu kan sudah ada rodanya, ayo beliin aki mi sama gerobak kayunya, Zaid yakin bisa....beneran deh yakin banget" Jawabnya kepada Umi
Dan Umi nya senyum-senyum saja, bilang "Wow kereeen, Iya, nanti kita liat-liat dulu ya di online harganya" Jawab Umi sambil mikir-mikir berusaha tidak mengecewakan Zaid dan menampakan wajah semangat, matanya melotot jenaka dan senang. Seakan sangat khawatir memadamkan binar di mata dan lebar senyum Zaid anaknya.
________________________
Yap......dialog seperti inilah kira-kira yang hampir saya dapati setiap hari dirumah saya. Dan rumah pun berantakan lantai penuh dengan pernak-pernik kecil bekas barang-barang elektronik, kabel, lem tembak, stop kontak dll. Rusuh, berantakan, seperti kapal pecah....gak ada rapinya rumah. Kadang-kadang nih, Zaid hanya mengeluarkan semua barang-barangnya di lantai ruang tengah depan TV, belum ada inspirasi dia mau buat apa, tetapi tetep, posisi barang sudah berantakan duluan dilantai. Kadang tercecer entah kemana, ada dinamo kecil atau obeng atau pernik elektronik kecil yang tajam tahu-tahu terinjak kaki. "Awwwww..... sakit sekali" rasanya pengen teriak sekuatnya dan memarahi Zaid karena Saya yang sedang memasak wara-wiri, sakit kesal terinjak benda tajam. Menguji kesabaran saya.
Itu dulu sewaktu awal-awal seperti ini, keadaan rumah sering berantakan dan tidak terkontrol dimana saja berantakannya. Alhamdulillah sekarang Zaid udah punya ruang sendiri meski masih di ruangan gudang kecil di belakang rumah, setidaknya dia sudah paham dimana barang-barangnya harus disimpan, sehingga tidak berantakan kemana-kemana dan kesenangannya tidak mengganggu orang lain. Inipun terwujud hasil diskusi kami, Zaid saya dan ayahnya setelah ada insiden-insiden kecil diatas. Zaid kita berikan pemahaman menyimpan barangnya dengan baik, bermain dengan senang tanpa mengganggu orang lain dan terkendali tidak membahayakan diri sendiri dan orang lain juga. Sedangkan dari kami sebagai orang tua, ternyata Zaid butuh ruangan privasi sendiri untuk dia leluasa melakukan kesenangannya itu dan memfasilitasinya meskipun di gudang ini juga Zaid kadang-kadang cemburu dengan abangnya yang punya ruangan sendiri untuk bereksperimen. Kadang dia kesal dengan banyak barang-barang lain di gudang selain barangnya, sehingga kita pun harus sering merapihkannya agar tidak mengganggu barang-barangnya permainannya.
Zaid kecil ketika usianya 4,5 tahun, suka bermain solder karena melihat abangnya Laskar memakai solder. Dan diperhatikan betul rupanya. Satu kali dia izin untuk menggunakan solder tersebut, kami izinkan karena kami memperhatikannya ketika itu sehingga bisa kita awasi kalau kejadian hal-hal yang tidak diinginkan. Namun karena rupanya Zaid sudah bisa, lain waktu tidak dalam pengawasan kami, dia memakai solder tersebut untuk bereksperimen. Namun tanpa sadar solder tersebut melukai kakinya. Lumayan besar juga lukanya waktu itu, sampai saya harus dua kali meminta resep dokter agar lukanya cepet kering, karena khawatir infeksi bila keringnya terlalu lama.
Dulu di usianya beranjak dua tahun, Zaid mulai sangat suka dengan api. Hampir setiap hari dia ingin selalu main dengan api. Bayangkan bangaimana khawatirnya kami semua ketika dia mulai bermain dengan api. Ada saja yang dimainkannya dengan api, selalu ada saja yang menarik baginya untuk dibakar atau diapakan saja itu api. Pastilah pernah kejadian luka bakar, tapi alhamdulillah tidak terbakar parah, hanya luka bakar kecil dan bisa dikendalikan. Meskipun tentu itu pastinya sakit, karena luka.
Saya berusaha menfasilitasi apapun yang membuatnya berbinar, namun ini api, sesuatu yang berbahaya. Tapi saya tidak boleh egois, hanya karena api berbahaya hingga kita tidak membuatnya bahagia karena saya tidak mengizinkannya bermain dengan api. Akhirnya saya mencoba mempelajari api dan mencari-cari keajaiban dan sains dari api. Sejak itu saya mencoba mengajarkan sebab akibat dan resikonya dari bermain api, listrik dll yang tentunya berbahaya ketika kita tidak dapat mengendalikannya. Saya mengajarkannya sifat api, bahwa api kecil jadi kawan api besar jadi lawan. Posisi kita sebaiknya seperti apa ketika bermain api dan percobaan-percobaan apa saja yang mudah terbakar dan sulit terbakar. Serta resikonya ketika bermain api juga kita harus siapkan, bagaimana bila kejadian terjadi api membesar dan pertolongan pertama ketika luka bakar bila kena api. Di TK Mentari juga waktu itu Zaid pernah ikut field trip ke Pemadam Kebakaran Jakarta Barat. Disana kita mendapatkan informasi dari petugas Damkar nya dan juga melihat simulasi kebakaran serta belajar melakukan pengendaliannya.
Alhamdulillah seiring waktu Zaid semakin mengerti dan dapat bermain api menyenangkan namun tetap aman. Kecintaannya kepada api belum surut tapi tidak terlalu membara seperti dulu (☺☺☺☺), Dia sudah beralih dengan kesukaan yang lain. Sebenarnya apapun yang dia sukai, yang utama adalah doa kepada pemiliknya agar Allah melindunginya dari segala macam bahaya. Karena tentu saya tidak bisa 24 jam bersamanya dan meskipun kita selaku orang tua 24 jam bisa bersamanya segala sesuatu itu tetap bisa terjadi atas kehendakNya, maka kita usaha namun tak lepas dari ketergantungan kita kepada Nya.
Zaid kecil juga sangat suka dengan hal-hal yang berhubungan dengan mesin. Awalnya dia tertarik dengan blender setiap kami menggunakan blender selalu diperhatikannya sehingga ia sendiri dapat mengoperasikannya dengan baik ketika usianya 5 tahun. Kadang dia menghadiahkan saya jus, entah jus buah apa saja yang ada di kulkas. Kala waktu tidak ada buah dia izin membuat jus ketimun, alhasil jadilah jus ketimun dan saya jadi harus belajar membuat es ketimun agar jus ketimun buatannya tidak dibuang dan mubazir. Alhamdulillah jadi bisa membuat es ketimun yang seger dan dinikmati bersama sekeluarga.
Tidak hanya blender saja yang disukainya, Zaid pun sangat suka dengan mixer. Dia selalu antusias kalau saya menggunakan mixer. Sekarang dia dapat membantu saya membuat kue terutama memperlakukan mixer nya dari menyusun kocokannya secara detil ke mesin mixer, mencolokannya dan memulai on of nya hingga bisa dipakai untuk mengocok telur dll. Terbukti suatu ketika saya lupa menyusun kocokannya yang ada dua tersebut di sebelah mana saja, sehingga ketika saya mengocok telur ternyata wajannya tidak berputar alias mesinnya tidak berjalan sempurna. Dan Zaid mengingatkan saya bahwa posisi kocokannya harusnya disini dan disini, wah benar saja setelah itu mixer beroperasi sempurna. Alhamdulillah.
Kesukaannya pada mixer dan blender membuatnya ingin dibelikan mixer dan blender. Beberapa orang yang mengetahui bertanya pada saya, "kok anak laki-laki membeli mainannya blender dan mixer?" heheheh... "kayak anak perempuan" kata mereka. Ups, saya baru sadar waktu itu, Tapi.. ehm ternyata selama ini beginilah mungkin cara pandang orang tua. Kalau anak laki-laki mainnya mobil-mobilan, anak perempuan mainnya boneka dan masak-masakan. Padahal dunia laki-laki dan perempuan tidak dibatasi dengan hal ini, dengan anak-anak bermain semuanya mereka akan lebih tahu bagaimana dan seperti apa fungsi dari benda-benda tersebut. Hal ini pun tidak akan membuat anak-anak laki-laki kelak lebih senang bersifat perempuan ataupun sebaliknya. Namun yang utama adalah peranan kita selaku orang tua mengarahkan, menyayangi dan hadir untuk mereka, memberikan contoh kepada anak-anak kita bagaimana sebaiknya perilaku sebagai perempuan atau sebagai laki-laki. Akhhh,....alhamdulillah saya sudah belajar ilmunya meskipun saya harus terus belajar, namun dengan hal ini membuat saya tidak membatasi diri sehingga memadamkan binar matanya akan kecintaannya kepada sesuatu yang membuatnya haus untuk terus belajar dan untuk mengetahui banyak hal dan memecahkan berbagai masalah kehidupan.
Sekarang Zaid berusia delapan tahun. Apa yang menjadi kebisaannya saat ini dibidang mesin, listrik dan elektronika menurut saya sudah setaraf kebisaan saya se usia SMU. Seingat saya dulu, baru memahami rangkaian paralel dan seri pada batere itu waktu SMU, merangkai kabel hingga dapat mengalirkan listrik, dll itu pun baru teorinya saja dan sedikit prakteknya. Saya tidak mampu membuat benda bergerak, alhamdulillah Zaid kecil sudah bisa menggerakan pesawat kertas tiga dimensi buatannya di usia 5 tahun. Wow saya pun takjub melihatnya, dan saya tidak menyangkal hal itu. Betapa pesatnya anak-anak belajar. Ketika kita stimulus dan kita fasilitasi sedemikian rupa membuat kita sendiri akan merasakan keajaiban-keajaiban yang bisa mereka hasilkan.
Menurut para ahli 80% pertumbuhan syaraf otak anak itu ada di dua tahun usianya, kemudian 50% hingga usianya 5 tahun dan 30% diusianya 8 tahun. Setelah usia ini pertumbuhan syaraf otak akan melambat hingga akhir usia manusia. Dan pada anak-anak usia dini inilah pesatnya pertumbuhan syaraf mereka. Lalu bagaimana syaraf-syaraf ini bisa tumbuh bila kita tidak memberinya stimulus-stimulus pada anak-anak kita? Simpul-simpul itu tidak hadir dengan sendirinya, dalam hadist Rosulullah, "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam telah bersabda: 'Seorang bayi tidak dilahirkan (ke dunia ini) melainkan ia berada dalam kesucian (fitrah). Kemudian kedua orang tuanyalah yang akan membuatnya menjadi Yahudi, Nasrani, ataupun Majusi" (Hadist Muslim).
Inilah tugas kita sebagai orang tua mereka mendidik anak-anak dengan fitrahnya, dengan misi yang Allah kehendaki kepada anak-anak kita, dengan kebahagiaan-kebahagiaan yang mereka inginkan, dengan binar-binar di matanya ketika mereka mengutarakannya, dengan keceriaan-keceriaan yang mereka tunjukan ketika mereka melakukannya. Berikan banyak stimulus kepada mereka, dengan memberikan banyak titik-titik pengalaman pada segala hal yang bisa kita lakukan bersama anak-anak kita. Hadirkan diri kita bersama mereka dengan itu semua, sehingga mereka anak-anak kita melihat dan merasakan bahwa kita ada bersama mereka ketika mereka senang dan bahagia.Tentu tidak mudah untuk bisa mewujudkan anak-anak yang dapat memimpin peradaban kelak, namun ayo kita terus belajar menjadi orang tua yang baik untuk mereka, kita lakukan perubahan kebaikan itu, meski kecil dan tak terlihat bermakna, namun yakinlah terus dan lakukanlah terus, tidak mesti menunggu orang lain mesti hanya kita sendiri yang melakukannya diantara semua orang, terus semangat dan yakin kelak sampai Allah sendiri yang akan menunjukan jalan-jalan kebaikan itu. Karena Allah tidak akan merubah kita hingga kita sendiri yang akan merubahnya. Lakukan dari diri kita sendiri, kemudian insyaallah dia akan menginspirasi didalam keluarga kita dan akan menjadi tradisi baik kelak di lingkungan kita.
Lakukan meskipun sedikit, lama-lama akan menjadi bukit
Yakin Usaha Sampai (Husni Teja Sukmana)
Sumber:
Al Quran dan Hadist
https://www.parentingclub.co.id/
Komunitas Ibu Profesional
Pengalaman pribadi dan teman-teman
https://www.facebook.com/nurhalita.diny
Tidak ada komentar:
Posting Komentar